Showing posts with label Book. Show all posts
Showing posts with label Book. Show all posts

Monday, July 4, 2016

Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World


Beberapa bulan yang lalu, temen saya Gilang pernah ngasih tau mengenai Blinkist.com, sebuah web yang menyediakan summary dari buku nonfiksi. Dengan Blinkist, kita menjadi lebih cepat mengambil intisari dari buku yang ingin kita baca. Salah satu rangkuman dari buku yang saya baca adalah bukunya Robert T. Kiyosaki, yaitu Second Chance: for Your Money, Your Life and Our World dimana ia terkenal dengan sejak bukunya Rich Dad, Poor Dad yang rilis tahun 1998.

Bukunya terlalu powerful untuk tidak dibagikan, untuk tidak diikat melalui tulisan. Saya coba sadur dan terjemahkan sebiasanya saya. 

***

Kenapa gap antara si miskin dan si kaya begitu besar?

Kebanyakan orang masih berfikir bahwa jalan untuk menjad kaya adalah sekolah setinggi-tingginya, dapatkan pekerjaan bagus dan bekerja keraslah. Sebenarnya, bahkan sebuah pekerjaan dengan gaji tinggi sekalipun tidak akan membuatmu kaya. Karena sederhananya, sistem keuangan kita sekarang tidak diciptakan untuk membuat kita kaya dengan cara seperti itu. Hanya ada satu cara yang akan benar-benar membuat kita kaya: dengan memiliki dan mengembangkan aset.


Sistem ekonomi sekarang berdasarkan inflasi

Peribahasa “Yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya”, seperti memang ada benarnya. Untuk masyarakat biasa, sistem inflasi merampas kesejahteraan dari mereka. Karena sederhananya inflasi adalah proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Artinya uang yang kita usahakan dengan keras, perlahan nilainya semakin berkurang.

Untuk cari tahu lebih lanjut mengenai Inflasi cek artikel di Wikipedia ini.

Kebanyakan orang tidak mendapatkan pendidikan yang layak mengenai keuangan

Presepsi orang mengenai menjadi sejahtera tentu berbeda-beda. Namun satu yang pasti, semua orang ingin sejahtera. Tapi sayangnya sekolah justru mengajarkan orang-orang untuk menjadi miskin. Pendidikan modern didesain untuk menjadi orang-orang menjadi pekerja, pembayar pajak dan konsumen. Beberapa orang berfikir bahwa solusi untuk kemiskinan adalah pendidikan yang lebih baik: jika kamu belajar lebih giat, kamu akan mendapatkan pekerjaan yang baik dan menghasilkan lebih banyak. Sekolah tidak mengajarkan siswanya untuk membuat uang di dunia ini - sekolah juga tidak menyediakan  pendidkan mengenai keuangan. Karena kurangnya pendidikan ini juga yang menyebabkan kebanyakan orang salah arti mengenai uang dan kesejahteraan. Kebanyakan orang berfikir bahwa orang yang sejahtera itu jahat dan membuat orang lain miskin. Mungkin ada benarnya juga, tapi tidak selalu seperti itu. Ada juga orang yang menjadi kaya karena dia berbuat banyak kebaikan.


Kamu tidak akan menjadi kaya tanpa pengetahuan soal finansial

Ketika orang-orang mengatakan kamu harus berpendidikan dan sejahtera, biasanya artinya mereka menyuruhmu menempuh pendidikan di universitas. Yang sebetulnya kamu butuhkan adalah pendidikan finansial.

Sekolah tidak mengajarkan pendidikan finansial karena itu terlalu powerful. Pendidikan finansial artinya pendidikan yang keluar dari pengetahuan tradisional dan mendapatkan pengetahuan baru yang dibutuhkan untuk membuat lebih banyak assets - ini memiliki power untuk menjadikan kamu sejahtera. Waktu dulu, budak tidak diperbolehkan untuk membaca dan menulis, karena itu terlalu powerful untuk menyaingi pemilik budak. Sekarang, kebanyakan orang dihindarkan dari pemahaman pendidikan finansial untuk alasan yang sama.

Sejahtera yang sebenarnya bukan mendapatkan uang yang banyak - itu adalah pemahaman yang salah lagi. Menjadi sejahtera adalah memiliki assets yang memberikan kita uang tanpa kamu harus bekerja untuknya. Kamu membutuhkan pendidikan bagaimana untuk bisa membuat assets.

Jika kamu membeli sebuah rumah tua, lalu memperbaikinya dan menyewakannya, kamu berarti memiliki assets. Kamu akan mendapatkan uang dari yang menyewa rumahmu tanpa harus bekerja untuk itu.

Orang-orang yang belum pernah mendapatkan pendidikan finansial hanya tau pemasukan dan pengeluaran. Makanya banyak yang salah pamahaman soal assets.


Analisa kondisi finansial kita, lalu mulailah membangun assets

Mungkin kamu berfikir bahwa untuk tahu apakah seseorang itu kaya atau miskin itu mudah, tapi sebetulnya tidak semudah yang kamu pikirkan. Kamu bisa saja tetap miskin meski hidup di rumah yang bagus dan mengendarai mobil mewah.

Jika kamu ingin mengubah kondisi keuanganmu, yang harus kamu lakukan adalah mengetahui bagimana kondisi keuangan kamu. Kamu membutuhkan income statement, dimana kamu menuliskan pemasukan dan pengeluaran, dan balance sheet dimana kamu dapat memantau assets dan liabilitas.

Cara terbaik untuk merencanakan masa depan adalah memilih antara 4 class assets, yaitu bisnis, real estate, paper dan komoditi. Pilih salah satu dimana kamu sangat tertarik - karena akan berbeda ketika kamu melakukan sesuatu yang kamu minati.

Setelah melakukan analisa kondisi finansial kamu, waktunya untuk kamu fokus dalam mengakusisi assets baru - meskipun kamu belum tahu bagaimana caranya!

Mengakusisi assets adalah langkah pertama, untuk masa depan kamu yang lebih sejahtera!


Pilih masa depan yang kamu inginkan - lalu perjuangkanlah!

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, mendapatkan gelar akademik tidak serta merta membuat kamu sejahtera. Pendidikan finansial adalah kunci untuk sukses, tapi darimana kita bisa mulai belajar?

Pertama, kamu harus mencari tahu masa depan seperti apa yang kami inginkan. Ingatlah bahwa menjadi sejahtera bukan hal yang terpenting di dalam hidup. Beberapa orang lebih menikmati bekerja jam sembilan pagi hingga jam lima sore untuk seumur hidupnya daripada mendapatkan karir cemerlang.

Jika kamu ingin hidup lebih sejahtera, bagaimanapun, bekerja jam sembilan pagi hingga jam lima tidak akan membuatmu mencapai itu. Jadi, mulai pikrikan mengenai masa depan yang cocok untuk kamu dan perjuangkanlah.

Dan kamu tidak bisa sukses di bisnis yang besar atau berinvestasi secara professional tanpa pendidikan yang tepat mengenai hal itu. Kamu membutuhkan kemampuan sebagai seorang entepreneur.

Salah satu kunci pembeda antara entepreneur dan mereka yang self-employed adalah bahwa entepreneur itu generalis. Artinya mereka tahu banyak hal meskipun sedikit-sedikit. Untuk mengerjakan hal yang spesifik, enteprenerus sebaiknya hire spesialis.  Karena ketika memulai bisnis, mereka bertanggung jawab pada setiap bagian: mulai dari mengembangkan produk hingga memimpin tim.

Bekerjasamalah dibandingkan berkompetisi. Mental kebanyakan karyawan membuat seseorang berpikir mereka harus berkompetisi dengan rekan kerjanya untuk menjadi unggul, itu bukan mindset yang kita inginkan di dalam tim kita. Entepereneur yang baik tahu bagaimana menuntun timnya untuk sukses.


Pelajari kemampuan berfikir yang dapat langsung diprakterkan melalui pengalaman dan berlatih

Salah satu perbedaan terbesar antara si kaya dan si miskin adalah intelektulitasnya, tapi bukan intelektual yang diukur di sekolah formal. Kamu mungkin mengukur intelektual seseorang di sekolah jika mempunyai ingatan yang bagus dan menulis dengan cepat, tapi pada kenyataannya, justru bukan kemampuan seperti itu yang bisa membuatmu sukses.

Untuk entepreneur, intelektual adalah mengenai menghadapi resiko, belajar dari kesalahan dan tetap semangat. Entepreneur membangun bisnisnya dari bawah menggunakan kemampuan praktikal yang lebih penting ketimbang mengingat siapa presiden Amerika ke 36.

Jadi, bagaiaman mengakusisi skill tersebut? Kamu bisa belajar dari coach atau teman, atau dengan mengambil kursus dari ahli. Lalu gunakan skill yang kamu dapatkan dengan memperaktekannya.

Karena itulah, kita akan belajar jika kita melakukanya - dengan pengalamanlah semuanya akan berada di memori kita, buka informasi yang kita ingat untuk ujian tertulis. Dan dengan memparktekannya dengan sering, mungkin saja kita melakukan kesalahan, kesalahan yang tidak akan kita ulangi. Terima kasih untuk pengalaman yang buruk. Di sekolah, kita dihukum untuk kesalahan kita; kemudian kita berfikir seseorang yang mendapatkan hukuman itu adalah hanya orang-orang bodoh. Nyatanya, mungkin bisa saja sebaliknya.

Jangan takut akan hutang - ambilah untuk membuat assets!

Kebanyakan orang mungkin befikir untuk menghindari hutang. Bekerja keras, dan jauhi hutang dan kamu akan baik-baik saja. Tapi untuk entepreneur, hutang akan menjadi teman baru.

Berhutang bisa menjadi alat yang powerful yang berpengaruh. Kebanyakan orang berasumsi bahwa jika mereka bekerja keras, mereka akan menghasilkan uang lebih banyak dan menjadi kaya. Faktanya, justru bisa terjadi sebaliknya: mereka harus membayar pajak lebih tinggi dan menghasilkan lebih sedikit.

Jika kamu ingin lebih sejahtera, carilah cara untuk mendapatkan lebih dengan sedikit. Pernah berfikir bagaimana musisi yang bernyayi live menjadi menjual CDs? Mereka menjual lebih banyak musiknya dengan melakukan lebih sedikit pekerjaan.

Hutang bisa membantumu dengan cara yang mirip. Di dunia finansial, itu bisa sangat powerful karena dapat membuatmu melakukan hal tanpa kamu harus menabungnya terlebih dahulu.

Jadi, ambilah hutang untuk membuat assets untuk dirimu. Pemikiran tradisional mungkin befikir kamu harus bekerja keras, kumpulkan uang dan beli assets tanpa pinjaman, tapi kadang tidak semudah itu. Kebanyakan orang tidak bisa menyimpan cukup uang untuk membeli assets berharga - akan lebih make sense untuk mewujudkannya dengan mengambil pinjaman.

Ringkasan final

Sistem moneter sekarang memaksa working-class untuk sulit mendapatkan kesejahteraan, dan sistem pendidikan membuat mereka tidak bisa menghentikan apa yang terjadi. Jika kamu ingin lebih sejahtera, cari tahu apa assets class yang sesuai untuk kamu. Lalu lakukan riset bagaimana untuk mengakusisi assets dengan mengambil hutang. Stir dirimu melalui masa depan yang kamu inginkan.

Actionable advice


Mulailah membaca publikasi yang berhubungan dengan finansial seperti Wall Street Journal dan pelajari istilah yang tidak kamu tahu. Jika kamu mempelajari 2 kata tiap hari, kamu akan belajar 60 kata dalam satu bulan!

Bonus

Viddeo wawancara Robert T Kiyosaki di Oprah Show



Image: theempowermag.com
Read More

Wednesday, June 15, 2016

Indonesia is The Next China, a Speech from Man of Ideas


Sejak Leap Up membantu project revamp website barunya Marketeers.com, tiap bulan saya berkesmepatan untuk membaca majalah Marketeers. Edisi Juni 2016 ini, topik utama yang dibahas adalah mengenai China 2.0, soal bagaimana perusahaan dari Tiongkok melakukan transformasi dari yang sebelumnya terkenal dengan harganya yang murah dan kualitas murahan, yang kini menjadi perusahaan yang harga terjangkau namun dengan kualitas bersaing.

Selain temanya sangat menarik, yang paling menarik buat saya adalah bagian rangkuman speech Pak Mochtar Riady di Jakarta Marketing Week bulan lalu. Saking sukanya, saya berkali-kali baca bagian itu. Karena suka, saya ingin menyalinnnya di sini, sehingga sewaktu-waktu bisa saya baca kembali dan pembaca Blog saya juga bisa membacanya. Speechnya sangat inisghtful dan positif! Silahkan disimak.

Indonesia is The Next China

Mochtar Riady, born Li Wenzheng, turns 87 in May this year. He is the founder of the Lippo Group, one of Indonesia's most powerful conglomerates. Born and raise in the Indonesian city of Batu, Malang, in a family from East China's Fujian province, he received his higher education from the erstwhile National Central university located in Nanjing, China in the 1940s. He moved to Jakarta in 1954 to pursue his dream of becoming a banker.

Mochtar Riady turned BCA from a small bank to the largest private bank in the country today, and later built his own, smaller private bank, Bank Perniagaan Indonesia which was merged with another bank to form Bank Lippo (in 2008, Bank Lippo merged with CIMB Niaga, and are known as PT CIMBN Niaga Tbk.). Many consuder him not as just a banker, but the best banker of his generation in Southeast Asia.

However, Lippo is now better known for its real estate investments than for banking. The group has even launched an e-commerce platform called MatahariMall.com that aims to be the number one online commerce portal in Indonesia.

This year, coming sixth on Forbes's Indonesia richest list with a fortune of $ 2.1 billion, he introduced an autobiography titled "Man of Idead" (Manusia Ide). The 336 page book chronicles Mochtar's early days, documenting how he began his business from scratch and crossed generations, industries, nations and cultures, armed only with ideas.

Mochtar Riady recently attended a celebration ceommermorating the 26th anniversary of Markplus,Inc, and gave a warm speech talking about the relationship between China dan Indonesia. Here is an excerpt from his speech, written by Saviq Bachdar from Marketeers.

***

The relations between Indonesia and China have been ongoing for centuries and keep growing year after year. China has also been one of Indonesia's key major trading partners in recent years, serving as the country's largest export-import market.

Before we talk more about it, I would like to describe the whole situation today. We are facing three major changes. First, since January 2016, Indonesia is facing extensive regional integration in the form of ASEAN Economy Community (AEC), followed by the Trans-Pacific Partnership Agreement (TPP), which would help the country attract greater foreign investment to its shores and move away from nationalist economic policies.

It means that the world today is set to face the free 'competition' economy over the next few yers. The competition would allow a large numbers of produces to compete with each other to satisfy the wants and needs of a large number of consumers.

And the Second, we would enter the services-oriented economy in the next few years. Most of us will work with information rather than producing good. As we can see, the service economy sector has cast a tremendous impact on the US economy nowdays.

To leverage both of these situations, we must depend on Information Technology (IT). And it creatoes a new era callled digital economy, an economic system that is based on digital computing technologies.

If we talking about free competiton, we are talking about the comparison of production cost among countries. We know that the U.S, followong the Second World War and starting 1947, begang rapid invention on IT solutions, such as micro integration or electronic components.

Electronics is generally divided into two categories. One is analog an the other is digital. A telecommunication technology is reffered to as a example of analog technology. Meanwhile, all kinds of everyday electronic items that we use work using digital technology, such as computer. Now, computer and telecommunication can be combined into one, and that's the internet.

Thus, today, the US has transformed into an information society. In 1971, when I was in the US, I read Alvin Toffler's book, The Third Wave, and found it mesmerizing. Three years later, Alvin wrote another book titled Future Shock. One year later, an American author in the area of futures studies, John Naisitt, for the first time, released his book Megatrends. After that, Professor Peter Ducker wrote Post-Capitalist-Society.



Drawing from the concepts in these four books, we could conclude that the US had successed to move their economy from nothern states to the southern states. From Detroit to Sillicon Valley. Today, property price in Sillicon Valley is much higher than that of in New York. This is what acctually happened in the US.

"Indonesia could learn a lot from China when it comes to managing human resources and developing infrastructure"

As the US turned into an information society, the middle class in the country flourished, and the American wages began to increas. Therefore, the labor-intensive industries in the US began moving to the developing countries. During the time, Germany and Japan did the same.

These two countries, also metamorphosed into information societies, thereby having to move their labor industries out to other developing countries. The US companies went overseas to make product and component ship back to the US. They say that moving to cheap-labor-countries like Mexico, India and Indonesia has enabled the US industry to regain its world standing.

In the east. Four Asian Tigers, South Korea, Taiwan, Hong Kong, and Singapore moved out their labour industries to china and South East Asia, including Indonesia. We transformed ourselves from a traditional agricultural society to a modern industrial one. China today has already progressed from an agricultural society to an information society.

While we are talking about China, I remember in 1990, I was invited by the China goverment to visit Beijing. At that time, Beijing did not have a good infrastructure. Everything was so basic. Today, Beijing stands as the dazzling modern city and seat of power of one of the world's strongest economies.

At that time, I Also visited Shanghai with Mr. Sukamdani Sahid Gitosardjono (founder od Sahid Group), staying at a five-star Peace Hotel. What happened was we had to wait for almost four hours only to check in. When entered the hotel room, I found a lot of rats. I was surprised to see how the rats even got in there. That was what really happened in China 25 years ago.

Why did China build its country from Beiking, and not Shanghai? Beijing people are people if the past. What modern day Beijing today is was an ancient city called Yanjing. A decade ago, the population of Beijing was only 20.000. Most of them were fishermen. Beijing was like a white paper. It was easy for everybody to write a new story.

Here, we can understand that in order to build an ecnomy that involves 1.3 billion people, it can begin from small thing. Beijing is clearly undergoing massive transformation right now, from infrastrcuture, urban development economoy, to labor industry.

Indonesia could learn a lot from China when it comes to managing human resources and developing infrastructure. I believe, under President Mr. Joko Widodo's master plan, over the next ten years, we will experiences growth rate of 10% in GDP.

In the erly 2000s, China overtook the US as the world's largest receipient of foreign capital. This was what we called China's Great Victory. Today, I would like to say, ten years later, it will be time for Indonesia's Great Victory.




In the next ten years, either US President or China President, if they would like to talk about the world economy and world affairs, I can definetly say that President of Indonesia will be invited for the discussion.

***

War biasa! War apa war apa? War biasa!
Disalin dari Majalah Marketeers edisi Juni 2016 (China 2.0: Our Turn to Copycat Them?). Like Marketeers di Facebook.

Cover photo dari Marketeers.com

Read More

Saturday, May 28, 2016

The Wisdom and Teaching of Stephen R. Covey


I have just finished a book today. It's "The Wisdom and Teaching of Stephen R. Covey" which I bought for only IDR 70k at Big Bad Wolf Book Sales.

This book contains the cyrstallized wisdom of one of the great teachers of our time, Dr. Stephen R. Covey. Compiled from various books and articles. Arranged under the decisive principles of life such as intergrity, life balance, vision, love, leadership and so on.

Too many great wisdom I got today from this book. These are my favorites:

"The key is not prioririze what's on your schedule, but to schedule your priorities"

"Happines, like unhapiness, is a proactive choice"

"The key of life is not accumulation. It's contribution"

"The greatest risk is the risk of riskless living"

"People are working harder than ever, but because they lack clarity and vision, they aren't getting very far"

"Seek first to understand. Then to be understood"

"In the Industrial Age, leadership was a position. In the Knowledge Age, leadership is a choice"

"If you want to be trusted, be thrustworthy"

#book #leadership #stephenrcovey #sebarkansemangatmembaca #metagraf

Cross-posted with my instagram account @sutisnamulyana
Read More

Thursday, May 12, 2016

Inilah kenapa financial literacy penting dipelajari sekarang!


Gw pernah denger mitos bahwa orang Sunda itu cenderung boros dan ga bisa nabung. Gengsinya tinggi dan mengutamakan penampilan. Makanya saking pengen gaya, ya ga ada uang buat ditabung. Tanpa bermaksud sara dan generalisasi tentunya, tapi gw memang mengiyakan mitos itu.

Dulu pas gw ngontrak di rumah sebelumnya, gw punya tetangga. Mereka adalah keluarga jawa yang merantau di Sumedang. Meski kita tetanggan, gaya hidup kita beda. Mereka serba berkecukupan tapi tetap sederhana, beda dengan gw yang gaya hidupnya udah daei dulu agak neko-neko. Seperti misal gadget harus standar terbaru dan baju harus dari distro. Tetangga saya itu adalah penjual bubur kacang dan punya usaha menyewakan becak tapi suami dan istri sudah naik haji. Beneran loh sinetron tukang bubur naik haji tuh kejadian sama tetangga gw. Nah keluarga gw sampe sekarang belum ada yang naik haji, atau setidaknya umroh lah. Belum ada!

Dari menarik kesimpulan pribadi bahwa, perbedaan itu ada karena perbedaan dari mengelola uang. Dan gw ingin keluar dari mitos orang Sunda diatas yang sempat gw yakini.

Pas berkunjung ke Big Bad Wolf Book Sales di ICE - BSD City, gw menemukan satu buku tipis dengan judul "Save Your Money!" Bebas Utang, Banyak Uang. Dari judulnya aja gw ga mikir lagi bahwa ini buku yang gw butuhkan.

Financial literacy (sederhananya melek soal finansial/keuangan) menjadi sangat penting buat gw, karena gw harus bisa menjaga cash flow perusahaan yang sedang dirintis. Meski dibantu sama istri, tetap saja pengetahuan kita soal keuangan dan akuntansi masih di bawah rata-rata. Ditambah gw juga harus ngerti gimana mengelola keuangan keluarga, management utang yang beberapa kasih harus dilunasi.

Buku yang gw beli 5000 rupiah ini memberikan tambahan insight buat gw belajar financial literacy, diantaranya:

1. Utang
itu ada dua jenis. Ada yang jenisnya konsumtif, ada yang produktif. Kalo komsumtif itu adalah sesuatu yang ketika lo beli, harganya akan terus turun. Misal gadget, elektronik, makanan, pakaian dll.

Kalo yang produktif, adalah yang bersifat investasi. Harganya kedepannya akan naik dan terus memberi manfaat. Seperti tanah, emas dll.

Beberapa barang yang gw punya, banyak yang hasil ngutang. Seperti Smartphone Nexus gw pas beli harga 5 juta, dicicil 12x, laptop Macbook Air harga 15 juta-an dicicil 4x. (Thanks to my prev bos to help me on these). Meski masuk ke barang konsumtif, itu tetep gw jadikan produktif, karena berdampak langsung sama produktivitas gw dalam bekerja. Bayangkan aja kalo misal gw masih pake laptop yang lama...

Kalo kita punya cicilan, jangan lebih dari 36% dari pendapat per bulannya supaya bisa stabil.

2. Pengeluaran
Ini juga jenis kan macem-macem ada yang wajib, primer, nabung/investasi, sekunder. Gw kadang uang habis di hal yang sekunder ketimbang konsisten dengan investasi.

Gw pribadi harus lebih bijak dan menimbang-nimbang ketika membeli sesuatu karena sadar gw harus merencanakan masa depan (dana pendidikan pribadi, anak, rumah, dana pensiun dsb). Jika tidak dikelola dari sekarang, gw tidak akan pernah merasa cukup, seberapa besarpun pendapatan gw.

3. Rencana Pelunasan Utang
Untuk yang satu ini, gw sudah agak mending. Karena dari sejak dulu gw punya tabel monitoring untuk utang. Jika lo belum punya bisa mulai bikin. Dengan begini, kita jadi punya gambaran jelas berapa lagi yang harus dibayar, kapan harus dilunasi dan jika mau mempercepat pelunasa harus seperti apa.



Karena gw anaknya Google banget, gw bikin monitoring utangnya di Spreadsheet. Sebetulnya kalo lo ga terbiasa, bisa juga cek aplikasi related to utang management seperti lunas.in misalnya.

Mudah-mudahan istikomah ya belajar financial literacy-nya.

Ditulis di bus Primajasa perjalanan Cileunyi-Lebak Bulus.
Cover photo: finlitkids.com
Read More

Sunday, March 20, 2016

Give and Take: A Revolutionary Approach to Success


Akhir pekan ini, gw lagi mood untuk baca dan nulis. Kemarin dari abis sholat subuh akhirnya bisa kelarin Work Rules dan langsung nulis summarya supaya bisa gampang kalo suatu saat butuh lagi isi bukunya. Hari Minggu ini moodnya masih ada dan akhirnya gw beresin buku Give and Take: A Revolutionary Approach to Success (ini juga hasil pinjeman udah lama banget, sempet dititip lama di kosan temen di Jakarta pas pindahan lagi ke Sumedang).

Buku ini ditulis oleh Adam M. Grant seorang profesor muda di Wharton School of the University of Pennsylvania dan tentu saja seorang penulis. Selain buku ini, buku lain yang lumayan terkenal adalah Originals: How Non-Conformists Move the World. Kentara banget sih kalo yang nulis adalah akademisi. Bukunya penuh dengan data hasil berbagai research yang relevan dengan bahasan. Tapi menurut gw bukunya agak boring sih. Meski di sini banyak ceritanya, tetep agak kaku. Dan sama sekali ga ada gambar. Ada diagram-pun kalo ga salah cuma satu. Makanya gw banyak skip sih di beberapa bab. Meskipun begitu, banyak pelajaran penting di buku ini.

Yang membuat gw tertarik untuk membaca buku ini adalah karena judul dan bahasannya sesuai dengan apa yang diajarkan islam melalui berbagai keterangan tentang membantu, memberi dan berbuat kebaikan untuk orang lain.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah Shallallahualaihiwassalam bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Di buku ini, dijelaskan bahwa ada 3 kategori/style manusia berinteraksi.

  1. Giver adalah tipikal orang yang ketika membantu mungkin tidak terlalu memikirkan cost-benefit analysis bahwa apakah yang dia berikan sesuai dengan apa yang dia dapatkan. Atau bahkan ketika membantu tidak mengharapkan timbal balik apapun.
  2. Taker adalah tipikal orang yang ingin mendapatkan sesuatu lebih banyak daripada yang bisa dia berikan dan meletakan kepentingan pribadi diatas orang lain. Takers percaya bahwa dunia sangat kompetitif, "dog-eat-dog" place. Mereka merasa bahwa untuk sukses, dia harus lebih baik daripada yang lain. Untuk membuktikan kompetensinya, mereka self-promote dan make sure mereka mendapatkan credit dari semua effort yang dilakukannya.
  3. Matcher adalah tipikal orang yang mengharapkan sesuatu yang seimbang antara apa yang dia dapatkan dengan apa yang dia berikan. Mereka memegang teguh prinsip keadilan dalam membantu orang lain.
3 kategori itu tidak hanya untuk orang-orang yang melakukan sedekah atau ikutan social project, tapi juga untuk kita yang bekerja di sebuah organisasi maupun bermasyarakat. Dari ketiga ketagori itu, mana yang menurutmu yang menjadi paling sukses di karir/kehidupan?

Di awal bab penulis menceritakan kisah tentang entrepreneur yang sedang mencari dana dan seorang investor. Dikisahkan bahwa investor di cerita itu adalah seorang giver. Dan karena dia giver, dia mendapatkan hasil yang kurang begitu menguntungkan. Di cerita ini seolah menunjukan bahwa menjadi giver akan berada di disadvantage situation. Dan tahukah kamu bahwa itu benar adanya! Seorang giver berada di paling bawah tangga kesuksesan pada berbagai bidang penting.

Taker dan matcher berada di level rata-rata tangga kesuksesan. Lalu siapa yang berada di level teratas tangga kesuksesan? Dia adalah giver! Ko bisa gitu ya? Bisa.. karena givers itu bisa dibilang ada dua jenis. Nih gw bikinkan diagramnya.

Ini satu-satunya diagram di bukun ini yang ditampilkan sangat sederhana






Gw coba rangkum bedanya ya:

  1. Selfless givers adalah orang yang mengutamakan kepentingan orang lain tapi sangat menyimpan kepentingan diri pribadinya jauh dibawah itu. Mereka memberikan waktu dan energi mereka tanpa memperdulikan kebutuhannya.
  2. Otherish givers adalah tipe givers yang paling baik. Mereka membantu orang lain, bahkan tanpa pamrih namun tetap memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan dirinya. Insted of pusing dengan self-intreset dan other-interset, mereka kadang mengintegrasikan keduanya sehingga menjadi sesuatu yang lebih baik. Misal nih kita mau berbuat baik untuk bantu anak jalanan belajar membaca. Selfless giver mungkin saja melakukannya pulang sekolah/kuliah/kerja, padahal belum makan dan ada beberapa janji ketemu orang. Yang akhirnya meski melakukan hal yang baik, kita mengorbankan hal baik lainnya.  Otherish mungkin punya strategi yang baik untuk melakukan hal itu, dia akan membantu anak jalanan itu setelah makan dan komunikasi untuk reshcedule janjian sama orang.
Dan kategori orang yang levelnya paling tinggi di tangga kesuksesan adalah mereka yang otherish givers.

Jika sebelumnya kita tahu bahwa yang ngedrive kesuksesan adalah hal-hal yang fokus kepada diri kita seperti passion, hard work, talent dan keberuntungan. Kini tidak hanya itu. Kesuksesan sekarang juga ditentukan dari bagaimana kita berinteraksi dengan yang lain. Buku ini coba membuktikan bahwa dengan berbuat baik dan menjadi giver tetap bisa menjadi sangat sukses. Untuk cerita lebih dalam mengenai apa yang ada di buku ini, silahkan beli di toko terdekat atau pinjem temen. hehe

Islam telah mengajarkan kabaikan ini sejak lama, Barat baru belakang ini saja menyadari hal ini. Dan sudah seharusnya lah kita menerapkan dan mempromote hal ini lebih dari yang dilakukan mereka. Menanggapi pandangan Barat yang sesuai dengan islam menurut gw bagus, karena mereka selalu membuktikannya dengan hasil research. Menjadi pelengkap referensi kita bahwa sikap giver bisa menjadi giver yang sukses apapun profesi kita.

Karena penulis juga adalah Ph.D. in organizational psychology, ga heran kalo di dua bukunya, dia bikin online assesstment, dan gw sudah coba ngambil dan ini hasilnya.

Mudah-mudahan bener ya kenyataannya! Amin


Jadi kamu giver, taker atau matcher?
Read More

Saturday, March 19, 2016

Work Rules: Checklist to transform team & workplace


Google menginspirasi gw di banyak hal. Dan Alhamdulillah sejak terpilih jadi Google Student Ambassador gw semakin mengenal Google lebih dekat dan mendapatkan akses ke berbagai hal yang berhubungan dengan Google yang sering juga gw catat di blog ini.

Gw yakin, Google tidak hanya menginspirasi gw, tapi juga jutaan orang di seluruh dunia. Selain berbagai inovasi produknya, yang membuat gw kagum adalah bagaimana mereka memperlakukan orang-orangnya.  Google mendapatkan pengakuan #1 Best Company to Work For di berbagai negara, #1 Top Diversity Employer dan the best company for women in technology.

Sebagai Google fan boy, gw ingin mempelajari lebih dalam bagaimana Google dijalankan dan bagaimana memperlakukan karyawannya. Hal itu sangat relevan karena saat ini gw sedang merintis perusahaan, Leap Up. Hasil pinjem buku Work Rules dari ce Febria, akhirnya gw beresin dalam waktu sebulan 2 minggu. Lama banget sih beresinnya, karena bulan February kemarin banyak interupsi dan karena ini bukunya bahasa Inggris, jadi sambil buka kamus sesekali. hehe

Buku ini ditulis oleh Laszlo Bock, Senior Vice President of People Operations nya Google. Semacam kepala HRD lah kalo di Indonesia mah. Buku ini memang bicara soal Google dari sudut pandang dia sebagai HR, tapi lewat buku ini kita bisa kenal lagi culture-culture yang diterapkan Google seperti keterbukaan dan freedom. Buku ini pas banget dibaca sama founder startup, karena bisa mulai menerapkan ide dan inovasi people operation Google meski di tim yang masih kecil.

Gw tuliskan beberapa point penting dari setiap chapter untuk sebagai reminder pribadi maupun pembaca blog gw:

Chapter 1

Work rules.. for becoming founder

  1. Choose to think of yourself as a founder
  2. Now act like one
"..My job as a leader is to make sure everybody in the company has great opportunities, and they feel they're having a meaningful impact and are contributing to the good of society.." Salah satu quote dari Larry yang menggambarkan bagaimana seorang leader seharusnya berpikir.


Chapter 2


Work rules.. for building a greate culture

  1. Think of your work as a calling, with a mission that matters
  2. Give people slightly more trust, freedom, and authority than you are comfortable giving them, if you're not nervous, you haven't given them enough


Chapter 3

Work rules.. for hiring

  1. Given limited resources, invest your HR dollars first in recruiting
  2. Hore only the best by taking your time, hiring only people who are better than you in some meaningful way, and not letting managers make hiring decisions for their own teams.
Cara mereka rekrut orang sangat ninja. Mereka tidak kompromi pada kualitas dan hiring decision ditanggapi sangat serius.


Chapter 4

Work rules.. for finding exceptional candidates
  1. Get the best referrals by being excruciatingly spesific in describing what you're lookimg for
  2. Make recruiting part of everyone's job
  3. Don't be afraid to try crazy things to get attention of the best people
Point 2 itu beneran. Sekitaran bulan Januari/Febuary gw dibantuin sama salah satu kenalan Googler yang kantornya di Singapore untuk apply suatu posisi. Dan dia yang langsung referalin. Seminggu kemudian ada balasan bahwa gw belum memenuhi kualifikasinya mereka. Mhh.. first try lah wajar! Terus ga lama dari itupun temen gw direferalin untuk jadi Language Specialist. Jadi Googler tuh kalo misal yang direferalin masuk, mereka bakal dapet bonus.


Chapter 5

Work rules.. for selecting new employees
  1. Set a high bar fo quality
  2. Find your own candidates
  3. Acsess candidates objectively
  4. Give caniddates a reason to join


Chapter 6

Work rules.. for mass empowerment
  1. Eliminate status symbols
  2. Make decision based on data, not based on the managers' opinions
  3. Find ways for people to shape their work and the company
Budaya ga enakan organisasi di Indonesia seharusnya bisa disolve dengan menerapkan rules 2 di Chapter 6. Jadi, meski opini dari manager, tetap harus ada data yang menunjang. Dengan begitu karyawan di bawahnyapun bisa mempunyai kesempatan untuk pendapatnya didengar.


Chapter 7

Work rules.. for performance management
  1. Set goal correctly
  2. Gather peer feedback
  3. Use a calibration process to finalize ratings
  4. Split reward conversations from development conversations
Chapter ini pengen gw coba. Meski anggota team masih sedikit tapi seharusnya segala sesuatunya harus diukur.


Chapter 8

Work rules.. for managing your two tails
  1. Help those in need
  2. Put your best people under a microcope
  3. Use surveys and checklist to find the truth and nudge people to improve
Di bab ini insightnya adalah prioritaskan perhatikan kepada anggota tim dengan performance paling baik dan paling buruk. Yang paling baik tentu adalah assets, jangan sampai dengan kontribusinya yang besar, ia merasa tidak diapresiasi. Yang paling buruk belum tentu tidak berbakat, mungkin saja rolenya sekarang kurang cocok, bisa jadi di role yang lain dia adalah performer yang paling baik.



Chapter 9

Work rules.. for building a learning institution
  1. Engage in deliberate practice: Break lessons down into small, digestible pieces with clear feedback and do them again and again
  2. Have your best people teach
  3. Invest only in courses that you can prove change people's behavior
Chapter yang ini relevan dengan yang pernah gw tulis, soal learning organization. Dan sebelumnya gw juga pernah baca artikel blog yang insightful di blognya Zenius tentang Deliberate Practice (DP).


Chapter 10

Work rules.. for paying unfairly
  1. Swallow hard and pay unfairly. Have wide variations in pay that reflect the power law distribution of performance
  2. Celebrate accomplishment, not compensation
  3. Make it easy to spread the love
  4. Reward thoughtful failure
Gw serasa didukung bahwa menggaji karywan dengan nominal yang beda untuk title role yang sama tapi kontirbusinya beda itu sah saja.



Chapter 11

Work rules.. for paying efficiency, community, and innovation
  1. Make life easier for employees
  2. Find ways to say yes
  3. The bad stuff in life happens rarely.. be there for your people when it does.
Di chapter ini ada cerita-cerita treatmen yang dilakukan Google kepada karyawannya yang baru saja punya anak. Ini sangat perlu untuk menunjukan bahwa kita sebagai company care mengenai hidupnya karyawan.


Chapter 12

Work rules.. for nudging toward health, wealth and happiness
  1. Recognize the difference between what is and what ought to be
  2. Run lots of small experiments
  3. Nudge, don't shove


Chapter 13

Work rules.. for screwing up
  1. Admit your mistake. Be transparent about it
  2. Take counsel from all directions
  3. Fix whatever broke
  4. Find the moral in the mistake, and teach it


Chapter 14

Work rule
  1. Give your work meaning
  2. Trust your people
  3. Hire only who are better than you
  4. Don't confuse development with managing performance
  5. Focus on two tails
  6. Be frugal and generous
  7. Pay unfairly
  8. Nudge
  9. Manage the rising expectations
  10. Enjoy! And then go back to No. 1 and start again

Masih pengen tau? Silahkan cek slidenya Laszlo Bock atau blog Google for Education mengenai Work Rules. Atau masih pengen tau lebih lanjut? Silahkan beli di toko buku terdekat!
Read More

Saturday, February 6, 2016

"Anak Dusun Keliling Dunia", Saya juga harus bisa!



Memang tidak semua orang desa/dusun mempunyai mimpi yang besar seperti keliling dunia. Bahkan untuk bermimpi saja banyak dari mereka yang tidak berani, atau bahkan ga kepikiran. Tapi beda dengan anak dusun yang pertama kali saya kenal lewat blognya yang menginspirasi.

Nama anak dusun itu adalah I Made Andi Arsana, yang kini sekarang namanya ditulis I Made Andi Arsana, Ph.D. Saya panggil saja Pak Andi.

Pertama kali menemukan blognya Pak Andi, ketika itu saya sedang mencari informasi beasiswa Australia. Entah kenapa saya mencari informasi semacam itu, padahal saya baru saja galau dari gagal mendapatkan beasiswa dan gagal lolos seleksi Politeknik Negeri Bandung. Ah saya pikir, meskipun masih belum relevan dengan saya saat ini, setidaknya saya tahu dulu ada beasiswa apa saja untuk bisa menuntut ilmu di Australia. Dan waktu itu blognya Pak Andi sempat viral karena tulisan yang menampar mahasiswa. Sejak saat itu, saya subscribe blognya Pak Andi di akun Feedly saya.

Setelah beberapa lama mengenal dan mengikuti tulisannya di blog, pertengahan tahun 2015 kemarin saya bertemu dengan Pak Andi di kantornya di UGM. Beliau adalah Kepala Kantor Urusan Internasional UGM yang ruangannya bersebelahan dengan  Direktorat Pengembangan Usaha & Inkubasi (Dit PUI) UGM yang saat itu saya kunjungi untuk persiapan kegiatan Innovative Academy, program dimana saya incharge ketika masih bekerja di Kibar. Ketika bertemu, saya seperti fans yang ketemu dengan artis idolanya. Sayangnya saya lupa ngajak selfie! Mudah-mudahan pertemuan selanjutnya bisa selfie ya, Pak. Hehe

Saya baru saja menyelesaikan membaca buku Anak Dusun Keliling dunia yang ditulis oleh Pak Andi. Saya beli akhir Januari kemarin secara online. Saya awalnya mau beli juga buku Berguru ke Negeri Kangguru, tapi kehabisan stok karena bukunya sedang rame-ramenya menjelang pembukaan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS).

Beberapa hal yang saya maknai dari buku "Anak Dusun Keliling Dunia":

Kekuatan Mimpi

Seperti yang ditulis di bagian epilog di bagian terakhir buku ini, bahwa kekuatan mimpi yang didukung oleh usaha gigih bisa mewujudkan mimpi itu dan memberikan pengalaman luar biasa. Jangan dulu untuk takut bermimpi, mari sama-sama belajar dan mengupayakan untuk mewujudkan mimpi-mimpi indah itu. Kamu bisa menyaksikan bagaimana anak dusun seperti Pak Andi yang berasal dari keluarga penambang bisa menaklukan berbagai negara dunia karena kegigihannya dalam berkarya. Kisah perjalanan hidup yang digambarkan lewat buku ini adalah benar-benar zero to hero yang patut kita teladani.

Kekuatan & Inspirasi Menulis

Di beberapa bagian buku, Pak Andi menunjukan dampak dari power of writing, bahwa dengan menulis bisa mengkoneksikan dan mendekatkan kepada berbagai kemungkinan dan kesempatan. Saya juga mengenal beliau karena tulisannya.

Saya selalu mencari mentor menulis, meskipun tidak selalu harus bertemu dengan mentornya. Mereka adalah orang-orang yang menginspirasi dan meyakinkan saya bahwa menulis adalah bagian penting yang harus dijalankan sebagai umat berilmu. Salah satu goal yang harus saya capai adalah menghasilkan sebuah buku yang bisa menjadi warisan pemikiran dan ilmu yang saya dapat. Saya lumayan mulai konsisten menulis di blog ini sejak akhir tahun 2013, dan saya akan berusaha semakin konsisten dan melakukan peningkatan. Sehingga bisa mencapai goal menulis buku di waktu yang tepat.

She is Nobody

Pagi itu menjadi pagi yang haru sekaligus penuh semangat untuk saya, ketika membaca bagian She is Nobody dalam buku itu. Pak Andi ketika itu menceritakan seorang hero di dalam kegiatan loka karya yang dihadiri calon-calon pemimpin Asia Pasifik. Hero untuk Pak Andi adalah Ibunya, ia ceritakan Ibunya yang kuat dengan sangat apik.

Izinkan saya mengutip sepenggal tulisan itu di sini
"Early in the morning at arount 04.00 am, she woke up. She took her sleeping son on her back, covered him with an old fragile towel. She travelled a long distance in the darkness breaking the foggy cold dark morning. She started the day with spirit. She went to the mining field. She passed the rice fields as if she learned the footpath by hearth. ... She did it everyday for the live of her family. She is presistent woman. Her only son was always with her and she did not want him to be a rock miner, someday."  
Saya juga merasa bahwa Ibu saya adalah pahlawan saya. Ia tidak berpendidikan, tapi ia cerdas dengan membiarkan anaknya terbang dengan sayapnya sendiri, ia ingin anaknya terbang lebih jauh. 

Well Prepared

Meski Pak Andi sudah puluhan kali melakukan presentasi di tingkat internasional, ia selalu melakukan latihan dengan serius sebelumnya. Ini harus dicontoh! Beberapa kali ketika harus memberikan presentasi atau tampil didepan publik, terkadang saya suka stress karena di H-1 baru mempersiapkan materi hingga subuh, padahal kegiatanya pagi hari. Tapi beberapa momen seperti saat harus presentasi di Philippines saya persiapkan dengan matang, karena menggunakan bahasa inggris dan saya tidak bisa banyak melakukan improvisasi.

Setiap mengunjungi negara baru, Pak Andi selalu merencanakan dengan detail tempat yang akan dikunjungi dan transportasi yang digunakan. Ga seperti saya yang mengalami tragedi kehabisan jadwal kereta dan bingung cara beli koin di Kuala Lumpur, diperparah dengan 2 teman saya dari Kamboja dan Philippines yang sama ga ngertinya


Kamu anak dusun yang mau keliling dunia juga? Mari mencapai mimpi bersama!
Read More

Monday, December 28, 2015

Apakah organisasi kamu mengembangkan budaya belajar?


Pada posting sebelumnya, gw bahas sebuah buku soal coaching di sebuah organisasi. Meski judul bukunya seperti itu, tapi muatan bukunya sebetulnya lebih banyak mengenai management secara general. 

Kita kemarin sepakat bahwa manusia adalah asset terpenting bagi sebuah perusahaan. Dan kita perlu mengelolanya secara manusiawi, menggunakan hati dan rasa. Salah satunya dengan menumbuhkan budaya coaching.

Insight yang menarik yang gw dapatkan dari buku itu adalah mengenai learning. Learn is our responsbility! Untuk supaya organisasinya maju, manusianya juga kudu maju. Learner mental harus ditumbuhkan di dalam organisasi. Karena lingkungan yang pembelajar, sangat penting peranannya bagi kemajuan organisasi itu sendiri.

Ada istilah yang disebut dengan learning organization. Apa kata Wikipedia mengenai istilah ini?
A learning organization is the term given to a company that facilitates the learning of its members and continuously transforms itself. Learning organizations develop as a result of the pressures facing modern organizations and enables them to remain competitive in the business environment.
Setelah saya baca lebih lanjut di halaman Wikipedia, saya menemukan keterangan Peter Senge mengenai learning organization yang dirangkum dalam bukunya The Fifth Discipline. 5 disiplin itu diantaranya systems thinking, personal mastery, mental models, shared vision dan team learning.

Untuk mengembangkan budaya belajar di dalam organisasi kita, ide langkah konkrit yang menurut gw bisa dilakukan adalah membiasakan alokasi membaca buku di kantor, lalu membahasnya barengan. Ini pernah gw terapkan pas di kerjaan sebelumnya, ketika sedang bertugas di Surabaya. Waktu itu saya minta anggota tim gw untuk membaca artikel berbeda tiap orangnya yang berhubungan denga tech-startup, kemudian setiap sebelum bekerja kita bahas bareng, saling diskusi dan berbagi. Sayang belum bisa berjalan secara konsisten. Mudah-mudahan bisa diterapkan kembali di organisasi baru gw.

Coaching culture juga revelan untuk merujudkan hal tersebut. Karena kalo kita bisa belajar dari teman, dari rekan kerja, kita merasa lebih nyaman ketimbang misalnya kita belajar dari guru formal.

Sok ah, mulai konsisten menjadi life-long learner dimanapun kita berada!


Read More

Sunday, December 27, 2015

Sukses Jadi Coach !


Tinggal beberapa hari lagi, kita bakal menjalani tahun baru. Belum memasuki tahun baru sekalipun, gw sudah sudah memutuskan untuk menjalani hari yang baru. Memberanikan diri untuk coba merintis usaha sendiri. Gw yakin ini keputusan yang tepat dan akan membawa kebaikan untuk diri gw dan orang-orang di sekitar gw.

Karena pas masih kerja dan bertugas di Surabaya gw kurang bisa mengatur waktu, alhasil bagi waktu buat baca buku itu rasanya berat banget. Karena mumpung pas sudah resign punya lebih banyak, gw melampiaskan nafsu untuk beli banyak buku sekaligus.

Salah satu buku yang gw beli adalah Sukses Jadi Coach. Pertama kali liat bukunya langsung tertarik buat baca, berhubung pas beli gw baru aja pulang ikutan camp I Am Gifted sebagai coach. Program ini dibikin sama Adam Khoo Learning Technnology Group (AKLTG). Program ini berasal dari Singapore, namun sudah diselenggarakan di Indonesia selama belasan tahun.

Gw bersyukur banget bisa memanfaatkan opprortunity untuk bisa ikut program ini. Dari program ini gw jadi lebih ngeh soal istilah coaching. Yang masih bertanya apa itu coaching. Mari kita tanyakan ke kakak WIkipedia.
Coaching is training or development in which a person called a coach supports a learner in achieving a specific personal or professional goal.
Kalo yang gw pribadi maknai, coaching itu proses mendevelop seseorang menjadi lebih baik untuk tujuan yang baik pula. Untuk konteks campnya I Am Gifted, seorang coach menjadi role model-nya participants camp mengenai semua materi yang disampaikan oleh trainer. Materi yang dibahas lebih ke arah bagaimana menjadi super student yang mendorong pembelajaran yang lebih efektif dan penuh passion.

I Am Gifted: me & participants


Ini pengalaman pertama gw ikut camp itu dan langsung harus menangangi 6 anak yang diamanahkan orang tuanya selama 4 hari di program ini. Dengan berbagai harapan setelah program ini mereka menjadi siswa yang lebih baik. Gw akan cerita lebih banyak soal campnya di posting terpisah ya!

Sukses Jadi Coach Book Review

Oke. Kembali ke buku yang baru gw selesaikan. Penulis dari buku ini adalah Ibu Eileen Rachman yang merupakan pendiri Experd Consultant, adalah konsultan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), cocok lah nulis buku yang seperti ini, karena pada dasarnya kan proses coaching adalah untuk mendevelop SDM. Coaching dalam konteks ini lebih banyak membahas antara atasan dan anggota timnya.

Di awal-awal chapter, gw merasa kehilangan inti dari buku ini. Ekspektasi gw di awal, buku ini bakal bahas secara komprehensif mengenai seluk beluk coaching dan bagaimana menjadi coach yang sukses. Di awal chapter dan di kebanyakan chapter lebih membahas mengenai manajemen sebuah organisasi dan bagaimana menjadi pemimpin sebuah perusahan. Beberapa contoh yang diambil di buku ini lebih banyak ke perusahaan penjual produk dan bagaimana meningkatkan penjualan. Sepertinya penulis sering memberikan training ke jenis perusahaan seperti itu.

Meskipun seperti kehilangan arah di awal-awal chapter, tapi buku ini memberikan banyak referensi untuk buku bagus yang baru saja gw tambahkan ke akun Goodreads gw.

Why Coaching?

To be effective leader, you must be an effective coach
Mungkin kalian bertanya. Emang kenapa kalo coaching anggota tim di organisasi? Nambah kerjaan aja! Di dalam sebuah perusahaan, kita sama-sama sepakat bahwa manusia adalah asset terpenting sebuah perusahaan. Secanggih apapun mesin atau komputer, tidak bisa menggantikan kehadiran manusia. Karena yang kita hadapai adalah manusia yang mempunyai hati dan rasa, maka ketika mengelola manusia, juga harus menggunakan rasa dan melakukan pendekatan manusiawi secara sungguh-sungguh.

Pemimpin yang baik, meskipun bukan yang ahli dalam pengelolaan SDM, harus tetap dapat melakukan pendekatan yang baik terhadap manusianya. Memberikan komunikasi dan emotional bonding yang positif.

Di dalam mencapai tujuan suatu perusahaan/organisasi, tentu kita mengharapkan anggota tim kita terus bekerja secara produktif. Nah, kita sebagai pemimpin apakah sudah menghadirkan suasana produktif itu? Ibarat sebuah tanah untuk menanam benih. Jika tanah liat dan keras, apalabila ditanam benih paling hanya akan tumbuh sampai tunasnya saja. Berbeda dengan ketika kita menanam benih di tanah gembur. Pertumbuhannya pasti akan lebih baik. Dan ketika dikasih pupuk, tumbuhan itu akan semakin cepat dan menghasilkan buah yang terbaik. Begitu juga dengan suasana di perusahaan/organisasi.

Organisasi yang sehat adalah ketika individunya merasa bersemangat dan merasa emotionaly & spiritual happy dan feel proud berada di lingkungan itu.

Survey juga menyatakan 93% pentingnya coaching untuk mendevelop manusia di dalam sebuah organisasi. Ketika manusianya lebih baik, maka semakin baik juga implikasinya pada produktifitas perusahaan. Dengan begitu, empowerment perlu menjadi agenda penting dalaman membina anggota tim.

Sebagai coach, ibarat seperti superman. Pepatah mengatakan coach itu "They good, you care. They bad, you care. They fail, you are there."

Build Rapport

Build Rapport

Mulai di chapter 13, pembahasan mengenai coachingnya mulai berasa. Pas camp I Am Gifted. Gw pertama kali mengenal istilah Rapport. 
Rapport is a close and harmonious relationship in which the people or groups concerned understand each other's feelings or ideas and communicate well.
Itu pengertian dari Rapport menurut kakak Wikipedia. Intinya sih gimana caranya kita bisa mengenal lebih dalam seorang individu. Di camp dikasih trik untuk membangun rapport, bisa dimulai dengan obrolan kesamaan hobby. Hal ini memang langkah awal yang harus dilakukan untuk melakukan coaching.

Sebagai pemimpin, kitalah yang harus menyesuaikan frekuensi dengan anggota team. Kita harus terlebih dahulu menghilangkan ke aku-an dalam diri kita. Ibarat Ibu jari, ia harus yang mendekat ke kelingking untuk bisa saling bertemu, tidak bisa kelingking yang mendekat.

Langkah awal yang harus dilakukan dalam melakukan coahing ke anggota tim adalah kita harus pandai melakukan identifikasi talent, sebelum membukakan opportunity untuk membiarkan mereka tumbuh. Dengan berbagai kebutuhan ini, kita juga belajar mengasah interpersonal skill kita.

Tango

Coach bagai menari Tango

Di chapter 15 menganalogikan bahwa hubungan pemimpin dengan timnya harus bisa selaras seperti halnya pasangan yang sedang menari Tango. Untuk bisa selaras mengenai hal yang dilakukan, tentu harus dibarengin dengan komunikasi yang baik oleh atasannya. 

Di chapter ini, penulis juga mengungkapkan, pemimpin yang baik adalah yang down to earth. Di samping perannya yang strategis dan visioner, ia juga harus mampu melakukan akses ke grass root. Gw sih sepakat. Apalagi sekarang kita lihat banyak pemimpin daerah seperti Bu Risma, Pak Ahok, Pak Jokowi yang lebih menunjukan aksinya blusukan. Menurut gw itu bukan hanya semata-mata pencitraan, tapi membuktikan bahwa pemimpin daerah setinggi itupun bisa melakukan hal kaya gitu. Dimana sebelumnya jarang sekali kita menemui pemimpin daerah yang melakukan hal itu.

Parameter Kesuksesan Coach

Sukses Jadi Coach
Kita sering mendengar istilah seorang pemimpin bisa dikatakan berhasil apabila yang dipimpinnya juga sukses. Begitu juga dengan coaching. Jika yang dicoach bisa sukses, berarti kemungkinan besar apa yang kita upayakan berhasil.

Coach yang berhasil juga adalah yang menjadikan coachee nya bisa melakukan refleksi terhadap dirinya. Coachee menjadi terdorong untuk berubah tanpa merasa dirubah. Merasa dibimbing tanpa merasa digurui. Merasa tumbuh tanpa dikerdilkan.

Kata Pengantar dan Cetakan

Ini bukan buku pertamanya Bu Eileen, tapi saya baru pertama kali membaca bukunya. Tapi kata pengantar buku ini kurang begitu 'mengantar' pembaca barunya mengenai buku ini. Meskipun buku ini lebih ke manajemen, tapi pegemasan bukunya sangat anak muda dan kekinian.

Yang paling gw suka dari cetakan buku ini adalah keyword, quotes dan bagian penting diemphasis sangat jelas. Jadi kita ga khawatir kelewat inti sari dari tiap chapter yang ingin disampaikan penulis. Tapi sayang gw ga terlalu suka sama typography-nya. Menurut gw kekecilan untuk bagian utama tulisan dan subheading chapternya.

***

Dari pengalaman yang sudah gw alami di camp I Am Gifted dan hasil membaca buku ini, gw disadarkan kembali akan pentingnya empowerment anggota tim. Since gw akan punya banyak anggota tim, gw harus akan menerapkan mindset, melatih untuk menumbuhkan coaching culture mulai dari sekarang.

Siap menjadi coaching untuk anggota tim kamu? Yes!
Read More

Sunday, February 8, 2015

Yes! The Power is in You..



Sejak pindah ke Jakarta, topik mengenai entrepreneurship dan teknologi (digabung menjadi digital stratup) adalah menjadi topik yang setiap hari saya dengar dan baca. Karena banyak banget tuntutan pekerjaan yang membuat saya harus mempelajari hal tersebut.

Kiprash dunia digital startup tidak hanya menjadi dunianya para pria, tapi kini juga wanita. Salah satu yang paling giat yang saya kenal adalah mbak Aulia Halimatussadiah (Ollie), salah satu iniator dari StartupLokal.

Jauh sebelum ini saya mengenalnya lewat nulisbuku.com. Saya juga sering denger namanya karena beberapa bidang yang juga saya minati, yaitu blog/kepenulisan, edukasi dan teknologi. Nah karena mbak Ollie baru saja rilis buku barunya, saya jadi penasaran untuk baca salah satu bukunya. Beberapa hal yang menarik dari buku ini.

Designnya kece
Bulan ini saya secara gak sengaja beli 3 buku ringan dengan design yang bagus. Buat saya sih ini salah satu faktor penting selain konten dari bukunya yang musti menarik. Seperti juga buku Beasiswa 5 Benua dan Khilafah.

Anak muda banget
Bahasa dalam buku sangat anak muda dan mudah dipahami. Ya cocok lah untuk segmentasi anak mudah/remaja yang memang menjadi fokusnya publisher gagas media. Dari segi konten sebetulnya tidak ada yang baru, tapi yang menjadi tantangan adalah bagaimana merealisasikan point-point tersebut. 

Work sheet
Pada setipa bagiannya ada semacam worksheet yang bisa dikerjakan. Metode seperti ini bagus supaya apa yang sudah dipelajari menjadi lebih diingat. Terakhir beli buku, worksheet yang seperti ini ada di buku Tuhan ini proposal hidupku. Saya sih ga ngerjain, tapi bikinna di Google Slide. hehee

5 Point Utama
Nah dibuku ini setidaknya dibahas 5 point utama, yang pertama yaitu Principle, membangun kebiasaan yang positif, mengambil tantangan dan mencari mentor. Kedua adalah On Track, menyusun schedule dan deadline, memfokuskan energi pada potensi maksimal. Selanjutnya adalah Work Smart, membiasakan rutinitas pagi dan bijaksana soal waktu. Keempat adalah Enthusiasm, bergabung dengan forum dan berbagi pengetahuan. Terakhir adalah Reliance, mencintai diri sendiri, menjadi individu yang positif dan memiliki serela humor.

Secara keseluruhan bukunya bagus dan positif. Meski memang tidak tterlalu banyak point baru tapi kita bisa mengambil inspirasi dari penulisnya. Saya rekomendasikan ini untuk dibaca oleh remaja Indonesia, supaya bisa menyadari potensi dirinya dan menghindari dari kegiatan yang hanya buang waktu, atau bahkan hanya menggalau. Buku ini cocok deh dihadiahkan untuk adik di rumah.
Read More

Khilafah *Remake: Episode Peradaban Dunia yang Ketiga


Saya termasuk orang yang ga terlalu suka membaca buku sejarah dengan bahasa yang sangat kaku dan minim visual. Soalnya membosankan! Ketika pertama kali tahu ada versi terbaru dari buku Khilafah yang bahas sedikit soal peradaban islam, terutama kekhalifahan, langsung tertarik untuk baca. Ya lumayan lah untuk memulai menyukai membaca sejarah dimulai dari yang ringan-ringan dulu saja.

Jadi apa aja yang dibahas di buku itu? Saya coba rangkum ya. Kan pepatah bilang "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya".


Episode dunia
Colloseum

Bab pertama dari buku ini bahas mengenai pusat dunia dan pusat peradaban yang berada di timur tengah sejak peradaban manusia pertama, yaitu peradaban Mesopotamia. Kemudian dibahas setidaknya ada 3 episode peradaban. Episode pertama adalah imperium Persia yang selama ribuan tahun berkuasa dan meninggalkan banyak sekali jejak sejarah. Episode kedua adalah imperium Romawi, yang salah satu peninggalannya sampai sekarang kita kenal dengan Colloseum. Episode ketiga adalah peradaban Islam yang justru tidak banyak dikenal orang secara luas. Berbeda dengan peradaban Persia dan Romawi yang begitu terkenal.


Surat Rasulullah

Saya baru tahu bahwa ketika rasul sudah dakwah secara terang-terangan, atas perintah Allah, rasul mengirimkan surat ajakan bergabung dengan Islam kepada para petinggi Rasul. Termasuk mengirim surat ke Kaisar Heraklius, yang sedang menikmati kemenangan Romawi di peperangan dengan Persia.

Setelah mempelajari surat dari rasul, kaisar sempat memiliki keyakinan mengenai kebenaran ajaran dan ajakan dari rasul dan sempat berkata "Bila benar apa yang dikatakan orang-orang soal Muhammad, maka dia seorang Nabi yang dikatakan dalam kitab kami". Tapi karena tekanan dari pejabat-pejabatnya, keyakinan itu kembali pudar demi mempertahankan kerajaannya yang sedang jaya.


Kegemilangan ilmu dan kemegahan peradaban islam

Lewat buku ini saya juga kembali mengingat mengenai kegemilangan ilmuan islam di masa lampau yang bahkan hingga saat ini tetap dijadikan rujukan oleh dunia Barat. Saya juga sempat bahas ini di postingan tahun lalu setelah membaca buku Muhammad sebagai Pedagang.

Dalam buku banyak sekali data yang dibikin seperti infographis yang bisa menambah pengetahuan dan membuat kagum waktu itu peradaban islam bisa sejauh itu.


Namun itu dulu, islam masa kini..
Keren amat pake tablet dan laptop

Sering diidentikan dengan teroris oleh berbagai media mainstream. Padahal jika ditelaah dengan data, George W. Bush pun bisa dikatan teroris ketika membunuh 500.000 manusia di Irak dengan tuduhan bahwa Irak memilik Mass Destruction Weapon, padahal tuduhan tidak terbukti hingga saat ini.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar justru sama sekali tidak menggambarkan bahwa paham islam pernah menjadi peradaban yang baik. Korupsi, kemiskinan, kriminal dan moral anak bangsa yang musti banyak diperbaiki. Kenapa?


3 Pilar penyokong kejayaan Islam

Yang pertama adalah dimulai dari individunya yang bertaqwa dan menjalankan nilai islam dengan baik. Setelah individunya yang baik, masyarakatnya juga harus yang bersatu dan berdakwah untuk kebaikan. Kemudian yang ketiga, yang menurut saya inti dari buku ini adalah Negara yang menerapkan syariah.

Saya sih masih musti banyak belajar mengenai penerapan syariah di negara, faktor mana saja yang memang akan membuat sistem ini akan menjadikan sebuah negara menjadi lebih baik.


Sebab runtuhnya Khilafah
Khilafah adalah sebuah kepemimpinan islam setelah wafatnya Rasul. Selama ratusan tahun berjaya. Kemudian apa yang menjadi penyebab runtuhnya khilafah ini? Ada jenis faktor yaitu eksternal dan internal. Faktor eksternal diantaranya adalah adanya pengaruh filsafat hindu dan yunani, kebangkitan Yahudi & Nasrani ditandai dengan mendirikan universitas, kemudian menjadi penguasa media, opini dan ekonomi. Keadaan itu ditambah dengan adanya revolusi Arab yang memisahkan diri dari khilafah juga adanya serangan fisik dari berbagai pihak.

Adapun faktor internal adalah karena bahasa arab yang mulai ditinggalkan, sehingga pemahaman terhadap ilmu dari peradaban menjadi berkurang. Kemudian munculnya pemahaman-pemahaman baru, salah satunya sekularisem, yang memisahkan aktivitas kenegaraan dengan agama. Yang terakhir dan yang paling berbahaya adalah sombong atau lupa diri. Karena berbagai kemenangan yang diraih, umat islam menjadi lupa diri dan berhenti memperbaiki diri.


Pentingnya berjamaah
Di buku ini juga ditekankan mengenai pentingnya berjamaah dalam hal kebaikan. Selain itu juga akan ada yang saling mengingatkan kita jika kita menuju jalan yang salah. Seperti dalam hadist
"Sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang sendirian" (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa'i)

Ingin ada kebangkitan? Apa yang harus dilakukan

Saya percaya bahwa akan ada kebangkitan lagi dan mengembalikan kejayaan peradaban islam masa lampau. Hal yang bisa kita lakukukan adalah terus memperbaiki diri, melakukan kajian islam, melakukan dakwah (bahkan dimulai dari yang paling sederhana menurut saya), kemudian yang ga kalah penting adalah mempelajari penerapan syariah islam.

Buku sederhana dengan design yang fancy membuat saya menjadi lebih semangat untuk mempelajari sejarah islam dan kekhalifahan. Bagaimana dengan kamu?
Read More

Saturday, February 7, 2015

Mengejar Beasiswa 5 Benua



Salah satu buku yang membuat saya kembali bersemangat ketika pernah menghadapi kegagalan adalah trilogi Negeri 5 Menara. Saya pernah baca buku ini kalo tidak saat masa-masa terakhir saya di tingkat SMK. Inti yang saya dapatkan adalah bahwa ketrbatasan itu jangan dijadikan hal yang ngeblok mental kita untuk mencapai hal yang besar. Karena kuncinya ada pada Man jadda wajada!

Saya begitu terkesan dengan cerita buku itu dan kagum juga sama penulisnya yang memang sebagian besar cerita dari buku ini diambil dari pengalaman Ahmad Fuadi. Setelahnya, saya beberapa kali mengiikuti bukunya yang lain seperti Menjadi Guru Inspiratif dan buku yang paling baru saya baca, yaitu Beasiswa 5 Benua. Apa saja yang menarik dari buku tersebut?

Design buku yang elegan
Berbeda dengan buku-buku A. Fuadi sebelumnya dengan design yang biasa. Kali ini bukunya dibuat sangat color full sehingga ga bosen untuk dibaca.

Format FAQ
Pembagian bab buku ini juga dibuat berurut seperti halnya saat akan mendaftar beasiswa. Seperti dimulai dari research, pendaftaran, wawancara hingga setelah diterima beasiswa. Selain pembagian seperti itu, tiap bagiannya dipisahkan dalam bentuk pertanyaan, mirip seperti FAQ di website-website.

Informasi beasiswa lintas negara dan tips
Pada buku ini juga dibahas beasiswa dari tiap negara dan harus kemana ketika kita ingin cari tahu lebih banyak soal beasiswa tersebut. Yang terpenting dari informasi tersebut adalah tips dan trik dari A. Fuadi yang memang sudah terbukti sebagai pengejar beasiswa dan pernah meraih 10 beasiswa.

***

Bahasan soal beasiswa dalah hal yang menarik buat saya. Meski saya sekarang sudah bekerja dan kuliah sambil kerja, tapi saya tetep yakin bahwa suatu saat saya bisa dapet beasiswa seperti itu.

Di cricle saya lumayan banyak banget yang juga para pemburu beasiswa, misalnya Ahmad Arib yang bahkan sudah pernah bikin buku soal beasiswa. 
Dikasih bukunya sama Arib waktu summit Google Student Ambassador

Dan juga temen-temen di Google Student Ambassador yang ga kalah aktifnya dalam mengejar berbagai kesempatan seperti beasiswa. Salah satu tokoh yang saya ikuti blognya adalah Made Andi Arsana (sekarang ketua international office di UGM), yang sering share soal beasiswa yang pernah didapatkannya.

Kamu juga mau mengejar beasiswa 5 benua? Good luck!
Read More
Designed By Seo Blogger Templates